Karya Tulis Ilmiah PEB INC ( PEB )
B. KONSEP DASAR PREEKLAMPSIA
1. Defenisi Preeklampsia
Berikut merupakan definisi preeklampsia berdasarkan berbagai pendapat para ahli :
a. Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema dan proteinuria yang timbul karena kehamilan. (Wiknjosastro, H, 2006. Hal.282)
b. Preeklampsia adalah merupakan hipertensi yang diinduksi oleh kehamilan. (Ladewig, Patricia, W. 2006, Hal.46)
c. Preeklampsia adalah penyakit yang disebabkan oleh tekanan darah toksemia tinggi yang terkait dengan kondisi diawal kehamilan. (Onggo, Ira Tri, 2010. Hal.189)
d. Preeklampsia adalah penyakit multisistem, yang bisa melibatkan otak, hati, ginjal, dan plasenta. Komplikasi-komplikasi maternal mencakup eklampsia, stroke, gagal hati dan gagal ginjal, dan koagulopati
e. Preeklamsia adalah timbulnya hipertensi di sertai protein urine atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu pada penyaki trofoblas.(Ratna Dewi Pudiastuti,2011.Hal163)
Secara teoritik urutan-urutan gejala yang timbul pada pre eklampsia ialah oedema, hipertensi dan terakhir protein urine, sehingga bila gejala-gejala ini timbul tidak dalam urutan diatas, dapat dianggap bukan pre eklampsia. Dari semua gejala tersebut, timbulnya hipertensi dan protein urine merupakan gejala yang paling penting.Namun, sayangnya penderita seringkali tidak merasakan perubahan ini.Bila penderita sudah mengeluh adanya gangguan nyeri kepala, gangguan penglihatan atau nyeri epigastrium, maka penyakit ini sudah cukup lanjut. (Sarwono, 2010)
Banyak orang yang kurang memahami mengapa dapat terjadi keracunan saat hamil. Banyaknya jawaban mengenai pertanyaan ini sebaiknya diluruskan dengan mengetahui pengertian preeklampsia terlebih dahulu. Preeklampsia merupakan penyulit kehamilan yang akut dan dapat terjadi antenatal, intranatal,dan postpartum (Sarwono Prawirohardjo,2010: hal 542).Preeklampsia sangat erat kaitannya dengan hipertensi dalam kehamilan. Sebelum membahas tentang preeklampsia, klasifikasi hipertensi dalam kehamilan juga harus diketahui terlebih dahulu. Hipertensi dalam kehamilan dibagi menjadi empat yaitu hipertensi kronik, preeklampsia-eklampsia, hipertensi kronik dengan superimposed preeklampsia, dan hipertensi gestasional.
Hipertensi kronik merupakan hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu atau hipertensi yang didiagnosis pertama kali setelah 20 minggu kehamilan dan menetap dalam 12 minggu pascapersalinan. Preeklampsia adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan disertai dengan proteinuria. Sedangkan eklampsia adalah preeklampsia ditambah dengan kejang-kejang dan atau koma. Hipertensi kronik dengan superimposed preeklampsia yang bisa diartikan hipertensi kronik disertai tanda-tanda preeklampsia atau hipertensi kronik disertai dengan proteinuria. Hipertensi gestasional bisa juga disebut transient hypertension merupakan hipertensi yang timbul pada kehamilan tanpa disertai dengan proteinuria dan hipertensi menghilang setelah 3 bulan pascapersalinan atau kehamilan dengan tanda-tanda preeklampsia tetapi tanpa proteinuria.
Preeklampsia adalah gangguan multistem yang bersifat spesifik terhadap kehamilan dan masa nifas. Lebih tepatnya, penyakit ini merupakan penyakit plasenta karena juga terjadi pada kehamilan dimana terdapat trofoblas tetapi tidak ada jaringan janin (kehamilan mola komplet). Sedangkan menurut Buku Ilmu Kebidanan karangan Sarwono Prawirohardjo, pada preeklampsia terjadi peningkatan reaktivitas vaskular dimulai umur kehamilan 20 minggu, tetapi hipertensi dideteksi umumnya trimester II. Tekanan darah yang tinggi pada preeklampsia bersifat labil dan mengikuti irama sirkardian normal.
2. Faktor Risiko Preeklampsia
Faktor risiko pada ibu hamil yang dapat memicu preeklampsia adalah primigravida, primipaternitas, hiperplasetosis misalnya mola hidatidosa, kehamilan multipel, diabetes melitus, hidrops fetalis dan bayi besar; umur yang ekstrim, riwayat keluarga pernah preeklampsia atau eklampsia, penyakit-penyakit ginjal dan hipertensi yang ada sebelum hamil.
3. Patofisiologi Preeklampsia
Patofisiologi preeklampsia belum terlalu jelas tapi ada beberapa teori yang diungkapkan mengenai proses terjadinya preeklampsia. Teori-teori ini diungkapkan tapi tidak dianggap mutlak benar. Teori yang pertama adalah teori kelainan vaskularisasi plasenta. Pada kehamilan normal, rahim dan plasenta mendapat aliran darah dari cabang-cabang arteri uterina dan arteria ovarika. Kedua pembuluh darah tersebut menembus miometrium berupa arteri arkuata dan arteri arkuata memberi cabang arteria radialis. Arteria radialis menembus endometrium menjadi arteri basalis dan arteri basalis memberi cabang arteria spiralis.
Pada hamil normal dengan sebab belum jelas, terjadi invasi trofoblas ke dalam lapisan otot arteria spiralis. Keadaan ini menyebabkan terjadinya dilatasi arteri spiralis dan distensi serta dilatasi jaringan sekitar arteri spiralis. Distensi dan vasodilatasi lumen arteri spiralis menyebabkan terjadinya penurunan tekanan darah, penurunan resistensi vaskular, dan peningkatan aliran darah pada daerah uteroplasenta. Akibatnya, aliran darah cukup adekuat dan perfusi jaringan juga meningkat, sehingga dapat menjamin pertumbuhan janin dengan baik. Proses ini disebut dengan remodeling arteri spiralis.Pada hipertensi dalam kehamilan tidak terjadi invasi trofoblas ke dalam arteri spiralis karena dinding arteri cukup kaku dan keras sehingga lumen arteri spiralis tidak memungkinkan terjadi distensi dan dilatasi. Akibatnya arteri spiralis relatif mengalami vasokonstriksi, dan terjadi kegagalan remodeling arteri spiralis, sehingga aliran darah uteroplasenta menurun dan terjadilah hipoksia dan iskemia plasenta. Diameter rata-rata arteri spiralis pada hamil normal adalah 500 mikron, sedangkan pada preeklampsia rata-rata 200 mikron. Pada hamil normal vasodilatasi lumen arteri spiralis dapat meningkatkan 10 kali aliran darah ke uteroplasenta.
4. Pembagian Preeklampsia
Preeklampsiadibagi menjadi preeklampsia ringan, preeklampsia berat, dan eklampsia. Preeklampsia ringan adalah suatu sindroma spesifik kehamilan dengan menurunnya perfusi organ yang berakibat terjadinya vasospasme pembuluh darah dan aktivasi endotel. Diagnosis preeklampsia ringan ditegakkan berdasar atas timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan/ atau edema setelah kehamilan 20 minggu.
a. Hipertensi: sistolik/ diastolik ≥ 140/90 mmHg.
b. Proteinuria: ≥ 300 mg/ 24 jam atau ≥ 1 + disptik.
c. Edema: edema lokal tidak dimasukkan dalam kriteria preeklampsia, kecuali edema pada lengan, muka dan perut, edema generalisata.
5. Komplikasi Preeklampsia
Komplikasi terberat adalah kematian ibu dan janin.Usaha utama adalah melahirkan anak hidup dari ibu yang menderita preeklampsia.Komplikasi di bawah ini biasanya terjadi pada preeklampsia dan eklampsia :
a. Solusio Plasenta
Komplikasi ini biasanya terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut dan lebih sering pada preeklampsia.
b. Hemolisis
Penderita dengan preeklampsia berat kadang-kadang menunjukkan gejala klinik hemolisis yang dikenal dengan ikterus.Belum diketahui dengan pasti apakah ini merupakan kerusakan sel-sel hati atau destruksi sel darah merah.Nekrosis periportal hati yang sering ditemukan pada autopsy penderita eklampsia dapat menerangkan ikterus tersebut.
c. Perdarahan Otak
Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal penderita eklampsia.
d. Kelainan Mata
Kehilangan penglihatan untuk sementara yang berlangsung sampai seminggu dapat terjadi perdarahan kadang-kadang terjadi pada retina, hal ini merupakan tanda gawat terjadinya apopleksia serebri.
e. Edema Paru-Paru
Sarwono (2006) mengatakanhanya satu penderita dengan 69 kasus eklampsia ini disebabkan oleh payah jantung.
f. Nekrosis Hati
Nekrosis periportai pada preeklampsia merupakan akibat vasospasmearteriol umum. Kelainan ini diduga khas untuk eklampsia tetapi juga pada penyakit lain. Kerusakan sel-sel hati dapat diketahui dengan pemeriksaan faal hati terutama pemeriksaan enzim-enzimnya.
g. Kelainan Ginjal
Kelainan ini merupakan endoteliosis glumerulus yaitu pembengkakan sitoplasma sel endotel tubulus ginjal tanpa kelainan struktur lainnya.
h. Komplikasi
Komplikasi lain yang terjadi berupa lidah tergigit dan fraktur karena jatuh akibat kejang-kejang dan preumonia aspirasi.Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin dalam intra uterin. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal 296- 297).
6. Pencegahan
Preeklampsia dan eklampsia merupakan komplikasi kehamilan yang berkelanjutan dengan penyebab yang sama. Pencegahan yang dimaksud ialah upaya untuk mencegah terjadinya preeklampsia pada perempuan hamil yang berisiko terjadinya preeklampsia (Prawirohardjo, 2008.
Untuk dapat menegakkan diagnosis dini diperlukan pengawasan hamil yang teratur dengan memperhatikan kenaikan berat badan, kenaikan tekanan darah, dan pemeriksaan urin untuk menetukan proteinuria. Untuk mencegah kejadian preeklampsia ringan dapat dilakukan nasehat tentang dan berkaitan dengan preeklampsia :
Untuk dapat menegakkan diagnosis dini diperlukan pengawasan hamil yang teratur dengan memperhatikan kenaikan berat badan, kenaikan tekanan darah, dan pemeriksaan urin untuk menetukan proteinuria. Untuk mencegah kejadian preeklampsia ringan dapat dilakukan nasehat tentang dan berkaitan dengan preeklampsia :
a. Diet makanan. Makanan tinggi protein, rendah karbohidrat, cukup vitamin, rendah lemak. Makanan berorientasi pada empat sehat lima sempurna.
b. Cukup istirahat. Istirahat yang cukup pada hamil semakin tua dalam arti bekerja seperlunya dan disesuaikan dengan kemampuan. Lebih banyak duduk atau berbaring kea rah punggung janin sehingga aliran darah menuju plasenta tidak mengalami gangguan.
c. Pengawasan antenatal. Bila terjadi perubahan peraan dan gerak janin dalam rahim segera datang ke tempat pemeriksaan. Keadaan yang memerlukan perhatian :
1) Uji kemungkinan preeklampsia :
a) Pemeriksaan tekanan darah atau kenaikannya
b) Pemeriksaan tinggi fundus uteri
c) Pemeriksaan kenaikan berat badan atau edema
d) Pemeriksaan protein dalam urine
e) Kalau mungkin dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal, fungsi hati, gambaran darah umum, dan pemeriksaa retina mata.
2) Penilaian kondisi janin dalam rahim
a) Pemeriksaan tinggi fundus uteri
b) Pemeriksaan janin : gerakan janin dalam rahim, denyut jantung janin, pemantauan air ketuban
c) Usulkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografi (Curtis, 1999).
d. Penanganan
1) Jika kehamilan kurang dari 37 minggu, dan tidak ada tanda- tanda perbaikan, lakukan penilaian 2 kali seminggu secara rawat jalan :
a) Pantau tekanan darah, proteinurin, refleks, dan kondisi janin.
b) Lebih banyak istirahat.
c) Diet biasa (tidak perlu diet garam).
d) Tidak perlu diberi obat-obatan.
e) Jika tidak ada tanda-tanda perbaikan tetap rawat.
f) Jika terdapat tanda-tanda perbaikan tetap rawat
g) Jika proteinuria meningkat, tangani sebagai preeklampsia berat.
2) Jika kehamilan lebih 37 minggu, pertimbangkan terminasi :
a) Jika serviks matang, lakukan induksi dengan oksitosin 5 IU dalam 500 ml dekstrose IV 10 tetes/menit atau dengan prostaglandin.
b) Jika serviks belum matang, berikan prostaglandin, misoprostol atau lakukan secsio caesarea. (Yulianti, Devi. 2006. hal. 126-127 dan Naylor, C. Scott 2005, Hal. 35)
Penanganan preeklampsia bertujuan untuk menghindari kelanjutan menjadi eklmapsia dan pertolongan kebidanan dengan melahirkan janin dalam keadaan optimal dan bentuk pertolongan dengan trauma minimal (Curtis, 1999).
Ibu hamil dengan preeklampsia ringan dapat dirawat secara rawat jalan. Dianjurkan ibu hamil banyak istirahat (berbaring/tidur miring), tetapi tidak harus tirah baring. Pada umur kehamilan diatas 20 minggu, tirah baring dengan posisi miring menghilangkan tekanan rahim pada vena kava inferior, sehingga meningkatkan aliran darah balik dan akan menambah curah jantung. Hal ini berarti pula meningkatkan aliran darah ke organ-organ vital. Penambahan aliran darah ke ginjal akan meningkatkan filtrasi glomeruli dan meningkatkan diuresis. Diuresis dengan sendirinya meningkatkan ekskresi natrium, menurunkan reaktivitas kardiovaskular, sehingga mengurangi vasospasme. Peningkatan curah jantung akan meningkatkan pula aliran darah rahim, menambah oksigenasi plasenta, dan memperbaiki kondisi janin dalam rahim..
Ibu hamil dengan preeklampsia ringan dapat dirawat secara rawat jalan. Dianjurkan ibu hamil banyak istirahat (berbaring/tidur miring), tetapi tidak harus tirah baring. Pada umur kehamilan diatas 20 minggu, tirah baring dengan posisi miring menghilangkan tekanan rahim pada vena kava inferior, sehingga meningkatkan aliran darah balik dan akan menambah curah jantung. Hal ini berarti pula meningkatkan aliran darah ke organ-organ vital. Penambahan aliran darah ke ginjal akan meningkatkan filtrasi glomeruli dan meningkatkan diuresis. Diuresis dengan sendirinya meningkatkan ekskresi natrium, menurunkan reaktivitas kardiovaskular, sehingga mengurangi vasospasme. Peningkatan curah jantung akan meningkatkan pula aliran darah rahim, menambah oksigenasi plasenta, dan memperbaiki kondisi janin dalam rahim..
Penderita preeklampsia berat harus segera masuk rumah sakit untuk rawat inap dan dianjurkan tirah baring miring kiri ke satu sisi (kiri). Perawatan yang penting pada preeklampsia berat adalah pengelolaan cairan karena penderita preeklampsia dan eklampsia mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya edema paru dan oliguria. Sebab terjadinya kedua keadaan tersebut belum jelas, tetapi factor yang sangat menentukan terjadinya edema paru dan oliguria ialah hipovolemia, vasospasme, kerusakan sel endotel, penurunan gradient tekanan onkotik koloid /pulmonary capilly wedge pressure (Prawirohardjo, 2008).
C. KONSEP DASAR PREEKLAMPSIA BERAT (PEB)
1. Defenisi Preeklampsia Berat
Preeklampsia berat adalah preeklampsia dengan tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 110 mmHg disertai proteinuria lebih 5g/ 24 jam.Preeklampsia digolongkan preeklampsia berat bila ditemukan satu atau lebih gejala sebagai berikut:
a. Tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 110 mmHg.
b. Proteinuria lebih 5 g/ 24 jam atau +2 dalam pemeriksaan kualitatif.
c. Oliguria, yaitu produksi urin kurang dari 500 cc/ 24 jam.
d. Kenaikan kadar kreatinin plasma.
e. Gangguan visus dan serebral: penurunan kesadaran, nyeri kepala, skotoma dan pandangan kabur
f. Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas abdomen (akibat teregangnya kapsula Glisson).
g. Edema paru-paru dan sianosis.
h. Hemolisis mikroangiopatik.
i. Trombositopenia berat: < 100.000 sel/ mmatau penurunan trombosit dengan cepat.
j. Gangguan fungsi hepar; peningkatan kadar alanin dan aspartate aminotransferase.
k. Sindrom HELLP.
2. Patofisiologi
Pada preeklampsia berat dan eklampsia dapat terjadi perburukan patologis pada sejumlah organ dan system yang kemungkinan diakibatkan oleh vasospasme dan iskemia (Cunningham, 2003).Wanita dengan hipertensi pada kehamilan dapat mengalami peningkatan respons terhadap berbagai substansi endogen (seperti prostaglandin, tromboxan) yang dapat menyebabkan vasospasme dan agregasi platelet.Penumpukan thrombus dan perdarahan dapat memengaruhi system syaraf pusat yang ditandai dengan sakit kepala dan deficit syaraf lokal dan kejang.Nekrosis ginjal dapat menyebabkan penurunan laju filrasi glomerulus dan proteinuria.Kerusakan hepar dan nekrosis hepatoselular menyebabkan nyeri epigastrium dan peningkatan tes fungsi hati.Manifestasi terhadap kardiovaskuler meliputi penurunan volume intravaskuler, meningkatnya cardiac output dan peningkatan tahanan pembuluh perifer.Peningkatan hemolisis mikroangiopati menyebabkan anemia dan trombositopenia. Infark plasenta dan obstruksi plasenta menyebabkan pertumbuhan janin terhambat bahkan kematian janin dalam Rahim
3. Komplikasi
a. Pada Ibu
1) Sistem saraf pusat
Perdarahan intracranial, thrombosis vena sentral, hipertensi ensefalopati, edema serebri, edema retina, macular atau retina detachment dan kebutaan korteks
2) Gastrointestinal hepatic : rupture kapsul hepar
3) Ginjal : gagal ginjal akut, nekrosis tubular akut
4) Hematologi : DIC, trombositopenia
5) Kardiopulmonal : edema paru kardiogenik, depresi atau arrest pernafasan, kardiak arrest, iskemia miokardium
6) Asites
7) Oedema laring
8) Hipertensi yang tidak terkendali
b. Pada Janin
1) Perdarahan intracranial, thrombosis vena sentral, hipertensi ensefalopati
2) Intrauterine fetal growth restriction (IUGR)
3) Prematuritas
4) Sindroma distress nafas
5) Kematian janin intrauterine (IUFD)
6) Sepsis
7) Cerebral palsy
4. Diagnosa
Pre-eklampsia digolongkan pre-eklampsia berat apabila ditemukan satu atau lebih gejala sebagai berikut:
a. Data Subjektif
Ibu merasa pusing dan pandangan kabur, nyeri pada ulu hati
b. Data Objektif
1) Tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 110 mmHg. Tekanan darah ini tidak menurun meskipun ibu hamil sudah dirawat di rumah sakit dan sudah menjalani tirah baring
2) Peningkatan kadar enzim hati atau ikterus
3) Trombosit kurang dari 100.000 / mm3 atau penurunan trombosit dengan cepatOliguria < 400ml per 24 jam
4) Proteinuria ≥+2
Pre-elampsia berat dibagi menjadi : (a) pre-eklampsia berat tanpa impending eklampsia dan (b) pre-eklampsia dengan impending eklampsia. Disebut impending eklampsia bila pre-eklampsia berat disertai gejala-gejala subjektif berupa nyeri kepala hebat, gangguan visus, muntah-muntah, nyeri epigastrium dan kenaikan progresif tekanan darah.
5. Penatalaksanaan Preeklamsi Berat
a. Peran Bidan dalam Pengkajian dan Diagnosis
Gangguan hipertensif cenderung tidak dapat dicegah sehingga deteksi dini dan penatalaksanaan yang tepat dapat meminimalkan keparahan penyakit tersebut (Decker and sibai, 2001).Standar asuhan antenatal yang tinggi berperan dalam mempertahankan kesehatan yang optimal.Bidan berada dalam posisi unik untuk mengidentifikasi mereka yang rentan terhadap pre-eklampsia. Pengkajian riwayat kesehatan yang komprehensif saat pemeriksaan pertama akan mengidentifikasi :
a. Keadaan sosial yang buruk atau kemiskinan yang dapat menghambat ibu dalam melakukan pemeriksaan rutin antenatal
b. Usia dan paritas ibu
c. Primipaternitas dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pasangan
d. Adanya riwayat gangguan hipertensif dalam keluarga
e. Riwayat preeklamsi terdahulu
f. Adanya gangguan medis lain misalnya penyakit ginjal, diabetes dan gangguan tromboembolisme.
Pada pemeriksaan berikutnya bidan harus mencatat semua faktor risiko yang terkait dengan kehamilan seperti kehamilan kembar. Dua gambaran utama preeklamsia yaitu hipertensi dan proteinuria dikaji secara rutin selama kehamilan, diagnosis biasanya ditetapkan berdasarkan peningkatan tekanan darah dan adanya proteinuri setelah usia gestasi 20 minggu.
6. Penatalaksanaan Preeklampsia Dalam Persalinan
Penderita pre-eklampsia berat harus segera masuk rumah sakit untuk rawat inap dan dianjurkan tirah baring miring ke satu sisi (kiri).Perawatan yang penting pada preeklampsia berat ialah pengelolaan cairan karena penderita pre-eklampsia dan eklampsia mempunya risiko tinggi untuk terjadinya edema paru dan oliguria.Sebab terjadinya kedua keadaan tersebut belum jelas, tetapi faktor yang sangat menentukan terjadinya edema paru dan oliguria ialah hipovolemia, vasospasme, kerusakan sel endotel, penurunan gradient tekanan onkotik koloid/pulmonary capillary wedge pressure.
Oleh karena itu, monitoring input cairan (melalui oral maupun infus) dan output cairan (melalui urine) menjadi sangat penting. Artinya harus dilakukan pengukuran secara tepat berapa jumlah cairan yang dimasukkan dan dikeluarkan melalui urine.
Bila terjadi tanda-tanda edema paru, segera lakukan tindakan koreksi. Cairan yang diberikan dapat berupa : 5% Ringer-Dekstrose atau cairan garam faali jumlah tetesan < 125cc/jam atau infuse dekstrose 5% yang setiap 1 liternya diselingi dengan infuse ringer laktat (60-125cc/jam) 500cc. Pengelolaan kasus secara sistematis ialah sebagai berikut:
a. Jika tekanan diastolik > 110 mmHg, berikan antihipertensi, sampai tekanan diastolik di antara 90-100 mmHg.
b. Pasang infus Ringer Laktat dengan jarum besar (16 gauge atau lebih).
c. Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload.
d. Kateterisasi urin untuk pengeluaran volume dan proteinuria.
e. Jika jumlah urin < 30 ml per jam Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin.
f. Observasi tanda-tanda vital, reflex, dan denyut jantung janin setiap jam.
g. Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru. Krepitasi merupakan tanda edema paru. Jika ada edema paru, stop pemberian cairan, dan berikan diuretik misalnya Furosemid 40 mg IV.
h. Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan bedside.Jika pembekuan tidak terjadi sesudah 7 menit, kemungkinan terdapat koagulopati.
i. Berikan antikonvulsan
Obat anti kejang yang banyak dipakai di Indonesia adalah magnesium sulfat (MgSO47H2O). Magnesium Sulfat menghambat atau menurunkan kadar asetilkolin pada rangsangan serat syaraf dengan menghambat transmisi neuromuscular. Transmisi neuromuscular membutuhkan kalsium pada sinaps. Pada pemberian magnesium sulfat, magnesium akan menggeser kalsium sehingga aliran rangsangan tidak terjadi (terjadi kompetitif inhibition antara ion kalsium dan magnesium). Kadar kalsium yang tinggi dalam darah dapat menghambat kerja magnesium sulfat. Magnesium sulfat sampai saat ini masih menjadi pilihan pertama untuk antikejang pada pre-eklampsia atau eklampsia dengan berbagai cara pemberian.
1) Dosis awal
a) Loading dose: initial dose
b) MgSO4 20% 4gr (20cc) diberikan secara intravena selama 5-10 menit (2-4cc/menit)
c) MgSO4 40% 4gr (10cc) diberikan secara intravena selama 5-10 menit (1-2cc/menit) ATAU
d) Infus 80cc Dekstrose 5%/ RL + 20cc MgSO4 20% habis dalam 15-30 menit (120gtt/menit)
e) Infus 90cc Dekstrose 5%/ RL + 10cc MgSO4 40% habis dalam 15-30 menit
f) Pasien akan merasa agak panas sewaktu pemberian MgSO4
2) Dosis pemeliharaan
a) 500cc Dekstrose 5% atau RL + 30cc (6gr) MgSO4 20% (20gtt/menit) ATAU
b) 500cc Dekstrose 5% atau RL + 15cc (6gr) MgSO4 40% (20gtt/menit)
c) Lanjutkan sampai 24 jam pascapersalinan atau kejang terakhir
3) Sebelum pemberian MgSO4, periksa :
a) Frekuensi pernafasan minimal 16x/menit
b) Reflex patella (+)
c) Urin minimal 30ml/jam dalam 4 jam terakhir
4) Stop pemberian MgSO4, jika :
a) Frekuensi pernafasan < 16x/menit
b) Reflex patella (-)
c) Urin < 30 ml/jam
5) Siapkan antidotum:
a) Jika terjadi henti nafas:
b) Bantu dengan ventilator
c) Beri kalsium glukonas 2 g (20 ml dalam larutan 10%) IV perlahan-lahan sampai pernafasan mulai lagi
D. MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PRE-EKLAMPSIA BERAT
1. Data subjektif
a. Gangguan visus dan serebral : penurunan kesadaran, nyeri kepala dan pandangan kabur
b. Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atau abdomen (akibat teregangnya kapsula Glisson)
c. Malaise
d. Mual, muntah
e. Dyspneu (jika terjadi edema paru)
f. Hematuria
g. Oedema pada jari tangan dan muka
h. Kenaikan berat badan berlebih
i. Nyeri perut dan perdarahan pervaginam (jika terjadi slutio plasenta) atau gejala lain yang menyangkut PEB
2. Data objektif
a. Tanda vital
1) Tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 110 mmHg
2) pernafasan sulit dan cepat jika terdapat edema paru
3) kecepatan nadi meningkat jika mengalami dispnea, nyeri epigastrium ataugejala lain yang menyangkut pre-eklampsia beratUmum : muncul kecemasan jika mengalami dispnea, nyeri epigastrium atau gejala lain yang menyangkut pre-eklampsia berat
b. Kulit :
Secara umum tidak tergantung oedema, terdapat pembengkakan pre-tibia, Sianosis, jika terdapat oedema paru, Petechie jika terjadi trombositopenia, Jaundice jika terjadi hemolisis. Auskultasi paru-paru, terdapat crackles (jika terdapat oedema paru)
c. Analisa
Analisis dibuat berdasarkan temuan yang diperoleh dari hasil pemeriksaan data subjektif, objektif dan pemeriksaan penunjang.Apabila tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan diastolic ≥110mmHg serta pada pemeriksaan protein urine didapatkan hasil ≥+2, maka analisis yang ditegakkan adalah pre-eklampsia berat.
d. Penatalaksanaan
Pada dasarnya pada pengelolaan preeklampsia berat, kita sedapat mungkin harus berusaha mempertahankan kehamilan sampai aterm. Pada kehamilan aterm persalinan pervaginam adalah yang terbaik bila dibandingkan dengan seksio sesarea. Jika perjalanan penyakitnya memburuk dan dijumpai tanda-tanda impending eklampsia, kehamilan harus segera diakhiri tanpa memandang umur kehamilan. Di samping itu, pemeriksaan terhadap kesejahteraan janin harus dilakukan secara ketat. Biometri janin, biofisikal profil janin harus dievalusi 2x seminggu, bila keadaan janin memburuk terminasi kehamilan harus segera dilakukan, etrgantung dari keadaan janinnya apakah persalinan dapat dilakukan pervaginam atau perabdominal.
Pada kehamilan preterm ≤37 minggu yang akan dilakukan terminasi kehamilan, pemberian kortikosteroid seperti dexamethasone atau betamethasone untuk pematangan paru harus dilakukan.
Pada penderita preeclampsia berat obat-obat yang dapat diberi untuk memperbaiki keadaan ibu dan janinnya adalah :
a. Magnesium sulfat
b. Anti hipertensi
c. Kortikosteroid : dexamethasone atau betamethasone untuk pematangan paru
E. PROSES ASUHAN KEBIDANAN
1. Pengertian Manejemen Asuhan Kebidanan
Proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasi pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah. Penemuan-penemuan keterampilan dalam rangkaian tahapan logis untuk pengembalian keputusan yang berfokus pada klien
2. Proses Manajemen Asuhan Kebidanan
Menurut Varney proses manajemen asuhan kebidanan terdiri dari 7 (tujuh) langkah step yaitu sebagai berikut.
a) Penilaian dan Analisa Data
Adapun pengumpulan data yang lengkap untuk menilai yang menyangkut atau keadaan klien, data ini termasuk riwayat kesehatan klien, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium serta laporan keterangan tambahan lain hubungan dengan kondisi klien.
b) Merumuskan Diagnosa/Masalah Aktual
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atu masalah berdasarkan interpensi yang benar atas data yang dikumpulkan.Diagnosa adalah hasil analisa dan perumusan masalah yang diputuskan dalam menegakkan diagnosa bidan dengan menggunakan pengetahuan professional sebagai dasar/arahan untuk mengambil tindakan.
c) Merumuskan Diagnoa/Masalah Potensial
Identifikasi adanya diagnosa atau masalah potensial lain dari diagnosa atau masalah potensial lain dari diagnosa yang ada dilakukan antisipasi atau pencegahan bila memungkinkan serta waspada dan bersiap untuk segala sesuatu yang dapat terjadi. Pada step ini sangat vital untuk perawatan yang aman
d) Melaksanakan Tindakan Segera dan Kolaborasi
Menggambarkan sifat manajemen secara terus-menerus yang tidak hanya terbatas pada pemberian pelayanan dasar pada saat persalinan.Data yang baru diperoleh tetap dievaluasi, beberapa data memberi indikasi adanya situasi emergenci, dimana bidan harus bertindak segera dalam rangka menyelamatkan ibu dan janin.
e) Rencana Asuhan Kebidanan
Pengembangan suatu rencana yang komprehensif ditentukan berdasarkan langkah sebelumnya. Suatu rencana tindakan yang komprehensif termasuk indikasi apa yang timbul berdasarkan kondisi tersebut dan juga bimbingan yang diberikan lebih dahulu kepada ibu terhadap apa yang diharapkan selanjutnya. Agar efektif suatu rencana seharusnya disetujui oleh bidan dan pasien sebab pada akhirnya klienlah yang akan atau tidak mengimplementasikan rencana tersebut.
f) Pelaksanakan Tindakan Asuhan Kebidanan
Step ini adalah pelaksanaan rencana tindakan. Hal ini mungkin dapat dikerjakan seluruhnya oleh bidan atau sebahagian dilaksanakan oleh klien sendiri.Implementasi yang efektif dapat mengurangi biaya perawatan dan peningkatan kualitas pelayanan kepada klien.
g) Evaluasi Asuhan Kebidanan
Evaluasi pada kenyataan adalah cara untuk mengecek apakah rencana yang telah dilaksanakan benar memenuhi kebutuhan klien, yaitu kebutuhan yang diidentifikasi pada tahap penentuan diagnosa dan masalah. (Salmah, dkk, 2006.Hal.155-167).
F. PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEBIDANAN
Asuhan yang diberikan harus dicatat secara benar, jelas, singkat dan logis dalam satu metode pendokumentasian. Pendokumentasian yang benar adalah yang dapat mengkombinasikan kepada orang lain mengenai asuhan yang telah dilakukan dengan dan akan dilakukan pada seseorang klien, yang didalamnya tersirat proses berfikir sistematis seorang bidan menghadapi klien sesuai dengan langkah – langkah dalam proses menejemen kebidanan. Menurut Helen Varney, alur berpikir bidan saat menghadapi klien meliputi 7 (tujuh) langkah agar diketahui orang lain apa yang telah dilakukan oleh seorang bidan melalui proses berpikir sistematis, maka dokumntasi dalam bentuk SOAP (Simatupang, E. J, 2010) yaitu :
1. Data Subjektif
Data atau fakta yang merupakan informasi termasuk biodata, mencakup nama, umur, tempat tinggal, status perkawinan, pendidikan serta keluhan-keluhan, diperoleh dari hasil wawancara langsung pada pasien atau dari keluarga dan tenaga kesehatan lainnya.
2. Data Objektif
Data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan fisik mencakup inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi serta pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radio diagnostic
3. Assesment/Diagnosa
Merupakan keputusan yang ditegakkan dari hasil perumusan masalah yang mencakup kondisi, masalah dan prediksi terhadap kondisi tersebut.Penegakan diagnosa kebidanan dijadikan sebagai dasar tindakan dalam upaya menanggulangi ancaman keselamatan pasien / klien.
4. Planning/Perencanaan
Rencana kegiatan mencakup langkah-langkah yang akan dilakukan oleh bidan dalam melakukan intervensi untuk memecahkan masalah
Komentar
Posting Komentar